sponsor

Slider

AMP TV

Release

Nasional

Hukum

Dari Basis

Internasional

Ekspresi

Kobumi Hong Kong Dukung Aksi Ribuan Rakyat Pati Tolak Pabrik Semen

Solidaritas BMI Hong Kong untuk Perjuangan Petani Menolak Pabrik Semen di Rembang

AMP HONGKONG - Ribuan petani dan warga turun ke jalan menolak pendirian pabrik semen yang akan dibangun di kawasan Pegunungan Kendeng Selatan oleh PT Sahabat Mulia Sakti selaku anak perusahaan PT Indocement, PT. GMM serta menyusul Bosowa. Karena tidak bisa masuk ke ruang sidang amdal, akhirnya para pendomo yang menggelar aksi dan orasi di depan hotel Pati.

Aksi penolakan dilakukan hari Rabu, 20 Januari 2015 di depan Hotel Pati yang sedang menyelenggarakan sidang amdal pabrik semen. Para petani dan warga yang berunjuk rasa berasal dari puluhan desa di kecamatan-kecamatan Sukolilo, Tambakromo, dan Kayen. Mereka menggunakan 80 truk dan puluhan motor sambil membawa poster, spanduk, dan keranda.

"Kami sebagai buruh migran di Hong Kong mendukung aksi Petani dan ribuan warga yang menolak pabrik semen yang merusak lingkungan itu. Lahan subur dan kehidupan petani di Pati Selatan akan terganggu dan rusak karena digantikan dengan penambangan batu gamping dan tanah liat untuk pabrik semen di wilayah Kecamatan Kayen dan Tambakromo, Kabupaten Pati, " Solider Umi dari Kobumi Hong Kong.

Pernyataan Sikap AMP Hong Kong: 100 Hari Pemerintahan Jokowi-Jk Rejim Pencinteraan, Boneka Kaum Pemodal!

Pernyataan Sikap AMP Hong Kong terhadap 100 Hari Pemerintahan Jokowi-Jk
Pernyataan Sikap
Aliansi Migran Progresif (AMP-HK)

100 Hari Pemerintahan Jokowi-Jk
Rejim Pencinteraan, Boneka Kaum Pemodal!

100 Hari masa kepemerintahan rejim baru, buruh migran Indonesia di luar negri makin tak tentu nasibnya. Janji-janji kampanye yang dikumadangkan saat pemilihan presiden , tinggal janji semata. Masih segar dalam ingatan, betapa hiruk pikuknya para relawan menggalang tanda tangan untuk mendukung dan memilih Jokowi sebagai Presiden. Tak ketinggalan juga, permasalahan KTKLN menjadi alat paling jitu sebagai ajang kampanyenya. Sehingga berhasil membuat buruh migran kembali terjebak ilusi menyandarkan dan menitipkan perjuangannnya kepada Rejim. Namun seperti rejim yang sudah-sudah , suara didapat janjipun hilang melesat!
Tidak terealisasikannya penghapusan KTKLN, adalah bukti bahwa rejim sangat tunduk kepada pemodal. 


Pernyataan tentang penghapusan KTKLN pada acara blusukan dengan buruh migrant melalui Conference video call, sempat membuat buruh migran tersalut salut. Namun pernyataan tinggal pernyataan karena sampai detik ini KTKLN tidak pernah dihapus! Bahkan dengan ijin presiden , BNP2TKI akan memindahkan kartu tersebut menjadi satu dengan paspor dengan alasan KTKLN masih ada dalam undang undang pemodal bagi buruh migran yaitu UUPPTKILN no 39/2004 dan juga KTKLN berguna untuk Negara, namun bukan untuk BMI! ini adalah salah satu bukti bahwa Jokowi masih meprioritaskan kepentingan pemodal yang menumpang melalui UUPPTKILN. Bagaimana dengan permasalahan buruh migran lainnya?? Kontrak mandiri, overcharging, kewajiban masuk PJTKI, perbudakan hutang dan masih banyak lagi.

Di tanah air Jokowi-JK sebagai pemerintahan refresif, bengis dan anti demokrasi!

Buruh & rakyat di tanah air tahu persis bagaimana Jokowi - JK melalui aparatnya memperlakukan buruh, mahasiswa, Petani dan elemen rakyat lainnya saat menentang kenaikan harga BBM yang menyusahkan. Dijawab dengan kebengisan , kekerasan hingga menelan korban jiwa. Dan parahnya Jokowi - JK menganggap biasa. Kaum buruh pun mengalami hantaman refresifitas aparat ketika berjuang untuk upah layak, korban berjatuhan dan negara tetap membiarkan ini terjadi tanpa menunjukan keberpihakan terhadap kehendak kaum buruh.
 

Sementara petani masih saja terancam kehilangan tanahnnya yang akan dijadikan sebagai proyek-proyek para pemodal , sengketa Kendheng misalnnya sampai hari ini ibu-ibu pemberani di Rembang masih belum ada kejelasan tentang daerahnya dari ancaman pendirian pabrik semen.
 

Lapangan kerja yang sempit, Industri nasional yang sekarat dan liberalisasi yang terus mengancam.
 

Ditengah terus bertambahnya angkatan kerja dari setiap lulusan baru, semakin berlimpahnya tenaga kerja. Tanpa dijawab dengan ketersediaan industri nasional yang mampu menyerap. Membuat antrian panjang pencari kerja dan tak tertampung, sehingga melemparkannya menjadi pengangguran baru dan memicu para lulusan ini menjadi tenaga buruh migran murah di Negara lain. Pemerintah Bukannya membangun dan menguatkan industri nasional berbasis kerakyatan, Jokowi - JK justeru membuka semakin lebar pintu untuk investor. Menggenjot pembangunan infrastruktur untuk eksploitasi habis - habisan sumber daya alam dan manusia indonesia. Dalam lawatannya keberbagai negara, Jokowi menjajakan indonesia. Disampaikan dalam forum forum di asia dan internasional seperti, APEC 2014, KTT ASEAN dan KTT G20.

Jokowi Bukanlah Kita
100 hari memerintah dan selama itu pula Jokowi - JK telah menjadi operator yang tunduk dan berguna bagi apa yang diinginkan “ tuan modal dan kehendak elit politik borjuasi negeri ini.” Akan demikian selanjutnya Jokowi - JK menjalankan kekuasaannya. Nawacita sebagai visi misi Jokowi - Jk sama sekali tidak mencerminkan keberpihakannya bagi kaum buruh, buruh migran dan rakyat indonesia namun lebih justeru menjadi duka cita bagi kaum buruh , buruh migran dan rakyat Indonesia.


Beberapa waktu belakangan ini Jokowi - JK semakin memperterang ketertundukannya pada Partai, kroni dan elit borjuasi. Bagaimana kaum buruh dan rakyat dipertontonkan “keragu - raguan” Jokowi - JK atas semangat rakyat yang menginginkan pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu. Bagaimana rakyat dibuat jijik oleh sikap dan pernyataan menteri nya yang melecehkan semangat rakyat. Mencerminkan isi kepala, cara berpikir dan bagaimana menjalankan pemerintahannya ‘ yang tidak jelas kedepannya”!

   
Semakin jelas sudah, bagaimana wajah asli kepemerintahan Rejim Jokowi-JK yang dulu dipermak begitu merakyat dengan pencitraan blusukan.
 

Kami dari Aliansi Migran Prgresif di Hong Kong tidak sedang menagih janji kepada Jokowi, karena dari awal kami tidak pernah menitipkan perjuangan dan janji-janji pada pemerintah.

Anggota AMP-HK : WIC,SERPAN, INA, IMMI, HARMONI, Kencono Wungu, Singo Umboro, KOBUMI, UNIMIG,OBLO, PEDE HK

Reference:
Koordinator Utama : Ryan Aryanti , 96846609
Wakil Koordinator : Umi sudarto, 95491924


Kembalikan Upah, Tanah, Kerja Layak untuk Kesejahteraan Rakyat - Bukan untuk Pemodal!

Release Acara Halal Bihalal AMP-HKG

AMP

(Referensi : Yuni 9139 1571)

''Jalin dan eratkan tali silahturahmi antar Organisasi massa BMI, dengan seni dan budaya wujudkan persatuan di garis perjuangan Buruh Migran serta kaum tertindas lainnya''

Itu adalah tema yang di ambil oleh Aliansi Migran Progresif HongKong (AMP-HK) dalam acara halal bihalal yang di selenggarakan pada hari minggu 24 Agustus 2014 bertempat di Tenda Putih Atas. 

Acara yang mayoritas di hadiri oleh anggota Organisasi di Aliansi Migran Progresif HongKong (AMP-HK) serta tamu undangan tersebut berjumlah tidak kurang dari 150 orang, selain bertujuan untuk menjalin dan mempererat tali silahturahmi antar Organisasi massa BMI, dalam pidato pembukaan nya Ryan Aryanti sebagai Koordinator utama AMP-HK menyampaikan bahwa acara tersebut juga merupakan ajang konsolidasi bagi seluruh anggota Organisasi yang tergabung di Aliansi Migran Progresif untuk lebih maju bersemangat membangun dan memperkuat Organisasi masing-masing, dengan tetap memegang komitmen persatuan dalam perjuangan melalui seni dan budaya, karena besarnya organisasi berarti besar pula AMP, majunya organisasi maju pula AMP. 

Selain di meriah kan dengan lomba Fashion Baju Muslim Casual dan lomba Lawak dalam acara Halal Bihalal juga di umumkan pemenang lomba menulis CERPEN yang sebelumnya di buka untuk umum, dengan tema ''Ramadhan dan Perjuangan di Negeri Beton'' dari masing-masing perlombaan tersebut di ambil 3 pemenang untuk setiap kategori perlombaan, setiap pemenang berhak menerima piala dan sertifikat penghargaan dari AMP dan masing-masing pemenang untuk lomba cerpen, Juara pertama di raih oleh Indira Margaretha dengan judul tulisan ''Tuhan ada di antara mie dan telur'' di susul juara ke dua hasil karya Yulia dan juara ketiga oleh Diana prabandari, sementara untuk lomba fashion juara pertama di raih oleh Arin,juara ke dua Iin, juara ke tiga Ita dan kategori lomba lawak juara pertama jatuh kepada group Waria Owok, juara ke dua dari group OBLO, dan juara ke tiga dari group Esto. 
selain menggelar berbagai perlombaan suasana acara semakin meriah dengan tampilan kesenian dari masing-masing organisasi yaitu dari Ijo Ne Assolole, SERPAN, IMMI, OBLO, Singo Umboro dan Wanodya Indonesia Club di tampilkan. 

Umi sudarto sebagai wakil koordinator AMP juga menyampaikan pesan dalam pidato nya bahwa perjuangan AMP tidak akan pernah sampai pada tujuan jika tidak ada persatuan kekuatan dan kesadaran dari seluruh kawan Organisasi yang telah terorganisir, untuk itu perlu kita sadari apa pentingnya berorganisasi dan perluasan jangkauan informasi di tengah berbagai permasalahan yang di hadapi buruh migran, bahwa organisasi adalah sebagai media dan alat propaganda untuk saling belajar tentang banyak hal khususnya mengenai hak dan kewajiban sebagai Pekerja Migran di sektor rumah tangga, dengan usaha perluasan jangkauan informasi melalui organisasi organisasi di harap akan meminimalkan kasus kasus kekerasan, perampasan dan penindasan yang terjadi terhadap BMI. 

DIAM DI TINDAS...!! 
TUNDUK DI TINDAS..!!
ATAU BANGKIT MELAWAN!!!! 
BANGKIT MELAWAN!!!!

-------------------------------------------------------------------------------------
Info:
Juara lomba menulis Cer-pen yang diadakan oleh Aliansi Migran Progresif ( AMP-HK )

juara 1 : 
Judul cerpen : TUHAN ADA DIANTARA MIE DAN TELOR
Karya : Indira Margareta

Juara 2
Judul cerpen : PEREMPUAN PEMBACA DO'A
karya : Yulia( Aliva Dewi )

Juara Ke 3
Judul cerpen : CATATN BIRUKU
Karya : Diana Prabandari

Selamat kepada Para pemenang, terus berkarya menjadi BMI yang bermartabat!

Terimakasih Tak terhinggga untuk dewan Juri yang telah bekerja keras menyaris semua naskah dan memberikan masukan ttg bagaimana menulis dengan baik, semoga bisa melahirkan cerpenis cerpenis yang bisa menjadi alat perjuangan buruh migran dan rakyat tertindas lainnya.

Peringatan 1 Juli: Ratifikasi C.189 dan Naikkan Upah Menjadi 4500 Dollar Hong Kong

Ratifikasi C189
Peringatan 1 Juli

Press Release Aliansi Migran Progresif

Referensi :
Ryan Aryanti

Selasa, 1 juli 2014. Aliansi Migran Progresif (AMP) beranggota 7 organisasi dan massa luar pekerja rumah tangga lainya, melakukan aksi dari daerah titik kumpul lapangan causwebay palem-palem sepak bola menuju ke Central Goverment Office (CGO). Aksi yang untuk pertama kali diikuti oleh barisan dari AMP ini menjadikan hal yang paling berkesan karena mampu sampai tembus keluar dari garis lapangan yang di blokade oleh polisi lokal, dengan hanya membuka satu pintu keluar saja. 

1 juli yang setiap tahun di peringati karena " kembalinya China dari kekuasaan tangan Inggris bukan dengan perayaan bersenang senang namun dengan aksi besar besaran dalam berbagai tuntutan kepada pemerintah an Hongkong. Aksi tanggal 1 Juli tahun ini melibatkan massa sekitar kurang lebih 500 ribu pendududuk lokal atau pun non lokal.

Mari kita sejenak membyangkan seandainya bangsa kita sadar bahwa perubahan bukan di tangan pemerintah tapi ada di pergerakan rakyat sendiri, atas dasar kesadaran seluruh rakyat Indonesia untuk turun aksi, menuntut ke pemerintahan Indonesia. Maka bisa di pastikan kemenangan itu ada di depan mata kita, namun kenyataannya rasa malas dan nerima apa adanya akan kesengsaraan yang di ciptakan oleh pemerintah kita melalui peraturan dan kebijakan merugikan adalah Warisan budaya nenek moyang yang cenderung pasrah akan nasib, adalah senjata untuk kaum penindas dalam menghisap rakyat nya sendiri. 

Menghapus peraturan batas visa dua minggu bagi pekerja rumah tangga yang diputus kontrak serta Menuntut kenaikan gaji, bebas memilih stay in atau stay out saat kita dihadapkan pada keselamatan kerja bahkan sampai pelecehan seksual menjadi tuntutan kita.
Masih menurut yulia dari Ikatan Migran Muslim Indonesia (IMMI), bahwa aksi tahun ini lebih banyak massa dibanding tahun-tahun kemarin. Biarpun terik matahari yang menyengat dan hujan deras mengguyur, tak menyurutkan kawan kawan AMP untuk terus maju di garis perjuangan. Luar biasa!

Dijelaskan juga oleh Ryan Aryanti Koordinator utama AMP bahwa perjuangan kita tidak akan berhenti Hanya sampai di sini selama tuntutan utama kita kepada pemerintah Hongkong belum dipenuhi yaitu Ratifikasi C.189/ peraturan dari ILO tentang hak perlindungan PRT dan untuk kenaikkan gaji menjadi $4500 kita akan melihat apakah pemerintah HongKong mau memenuhi jumlah yang kita tuntut atau hanya memberikan kenaikan sedikit seperti tahun tahun kemarin meski perekonomian HongKong sendiri sudah membaik. 

Selama peraturan yang tIdak memihak kepada PRT migran, selama perlindungan hukum bagi PRT berkasus masih tetap cenderung memihak kepada majikan, maka barisan ,, organisasi dalam wadah AMP akan terus mengkritisi kebijakan pemerintah HongKong tegas Ryan Aryanti 

We are worker 
We are not slave !!
Long live Internasional solidarity !!!

Perjuangan BMI Melawan Program Ekspor dan Penindasan

Stop Perbudakan Modern
Penampungan Buruh Migran, dok. Tribun
Krisis global dan imbasnya terhadap rakyat Indonesia
Rakyat Indonesia selama ini sudah ditindas dan dihisap oleh sistem yang sangat kejam yaitu:
- Monopoli atas tanah rakyat sehingga rakyat tidak bertanah atau tergusur dari tanahnya sendiri dan jikalaupun ada   maka tidak bisa diproduksi untuk memenuhi kehidupannya sendiri di tanah air.

- Para pengusaha asing skala dunia dipimpin oleh Amerika Serikat yang menjajah Indonesia melalui modal, mengeruk habis tanah dan segala isinya, menjadikan rakyatnya sebagai buruh murah di dalam dan luar negeri dengan cara menyuap pemerintahan Indonesia sebagai kaki tangannya dan membunuh demokrasi di tanah air kita

Kedua sistem ini saling bekerjasama untuk saling memperkaya diri sendiri diatas penderitaan dan tangis jutaan rakyat Indonesia. Imbasnya kemiskinan meluas di tanah yang sebenarnya amat subur, pengangguran meningkat, harga-harga kebutuhan pokok terus melonjak, pelayanan publik mulai pendidikan hingga kesehatan makin tidak terjangkau oleh masyarakat luas, kriminalisasi dimana-mana, dan berbagai imbas sosialnya. Kondisi ini sekarang diperparah oleh krisis global yang dialami oleh Amerika yang kemudian menyuruh semua pemerintahan yang tunduk dalam kekuasaannya, termasuk pemerintah SBY-Budiono, untuk melipatgandakan pemerasan terhadap rakyat demi menyelamatkan mereka sendiri dari krisis. Kenapa itu terjadi penggusuran tanah dimana-mana, aparat membunuh rakyat yang sedang melawan, meningkatkan program ekspor TKI sebagai penghasil devisa, dan lain sebagainya.

Sejak 3 tahun lalu ketika SBY hampir lengser keprabon dan akhirnya terpilih lagi sebagai presiden, pemerintah telah mencanangkan target 1 juta orang per tahun untuk diekspor keluar negeri. Tahun sebelumnya, SBY malah meningkatkan target tersebut menjadi 2 juta buruh dengan alasan yang pragmatis yakni untuk mengurangi pengangguran dan yang sebenarnya adalah alasan mendapat peningkatan devisa dari pengiriman (baca: ekspor) buruh murah ke luar negeri.

Langkah ini kemudian diambil untuk mengkongkretkan target ini dengan cara:
Mempermudah pendirian PJTKI dan agen yang mau berbisnis TKI dan menyebarluaskan informasi bahwa dengan bekerja diluar negeri, rakyat Indonesia bisa terentas dari kemiskinan dan bakal kaya suatu saat nanti. Kita tahu benar itu bohong dan penipuan. Untuk ini, PJTKI dan agen diijinkan menghisap kita dengan potongan 7 bulan dan diijinkan pula memperlakukan kita layaknya budak yang terus menerus diperas serta tidak akan pernah mendapatkan hukuman atas dosa yang diperbuatnya.

Mencari lowongan-lowongan kerja diluar negeri termasuk sebagai perawat di Jepang, buruh pertanian dia Afrika dan beberapa di Eropa.

Menerapkan dengan ketat isi UUPPTKILN No. 39/2004 yang menyatakan bahwa urusan perekrutan, mencarikan majikan, pelayanan ketika bermasalah diluar negeri hingga pemulangan adalah tanggungjawab PJTKI dan agen yang memberangkatkan.

Lalu bagaimana posisi BMI di mata pemerintah? Murni sebagai barang dagangan dan tidak mempunyai hak untuk menawar atau menolak. Bahkan berbagai peraturan yang dikeluarkan oleh rezim SBY semakin menguatkan bahwa kita BMI adalah produk ekspor dan mereka tidak peduli sedikitpun dengan jaminan perlindungan dan sebagainya, dibiarkan begitu saja.

Jika kita hubungkan dengan kondisi yang kita alami di Hong Kong, pembiaran tersebut sangat kentara jelas dari berbagai penindasan yang kita alami dan peraturan yang dikeluarkan KJRI antara lain memperbolehkan PJTKI menarik potongan 7 bulan dan biaya agen selangit ketika memproses kontrak baru, melarang kontrak mandiri, menahan paspor dan kontrak kerja, memalsukan identitas kita, meng-underpay dan merampasi hak-hak kita seperti yang tercantum di kontrak kerja, membuat kita overstay bahkan melecehkan dan menganiaya kita. Semua lahir karena kita dipaksa masuk PJTKI dan agen.

Setelah melarang kita kontrak mandiri, tahun kemarin KJRI bahkan melarang kita pindah PJTKI/agen dan melarang menunggu visa di Macau atau China. Semua atas nama perlindungan tapi jika kita hayati hakekatnya untuk memaksa kita melunasi potongan dan memaksa kita bergantung ke PJTKI/agen ketika ada masalah sehingga pekerjaan KJRI mengurusi TKI bisa dikurangi. Disinilah kita menyaksikan secara terbuka bagaimana negara hanya ingin mengekspor tapi tidak ingin melindungi dan membiarkan kita terlunta-lunta dan menjerumuskan kita ke pihak-pihak yang selama ini hanya memanfaatkan kita.

ditulis oleh Ilalang Victoria

Ribuan Orang Ikut Aksi Solidaritas Untuk Erwiana

Kekerasan trerhadap BMI Hongkong
dok.photo: kompas


Ribuan Orang Ikuti Aksi Solidaritas Untuk Erwiana

Kartika Puspitasari Ajukan Banding Di Pengadilan Hongkong

Kasus Kekerasan Terhadap PRT
Kartika Puspitasari

Banding atas kasus penyiksaan BMI HK di Tai Po dilanjutkan kemarin, Korban (Kartika) merupakan PRT Indonesia yang disiksa, diikat di kursi mengenakan popok, tak diberi makan dan minum.

Pasangan A memaksa pekerja rumah tangga Indonesia, Kartika Puspitasari dengan memakaikan popok kemudian mengikatnya ke kursi sebelum meninggalkannya tanpa air atau makanan sementara mereka pergi untuk liburan lima hari di Thailand dengan anak-anak mereka.

Kasus penuntutan di persidangan Tai Chi-wai, 42, dan istrinya, Catherine Au Yuk-shan, 41, atas tindak kekerasan fisik dari Oktober 2010 sampai Oktober 2013. Mereka menyangkal  telah memukul Kartika Puspitasari dengan rantai sepeda dan sepatu, dan menciderai mukanya dengan setrika panas.

Au diduga melukai tangan dan lengan Kartika menggunakan gunting kertas, dan memukulkan kepala Kartika pada keran air dengan keras hingga meninggalkan bekas luka karena dinilai membersihkan toilet dengan tidak benar.

Setiap kali pasangan itu meninggalkan rumah atau pergi tidur, mereka mengikatnya, jelas
Fu Chong Sang, penuntut kasus ini.

Pada Oktober tahun lalu ketika Kartika tidak diberi makanan apapun selama dua hari dan dia akhirnya mengambil ayam dan sepotong kue dari lemari es lalu memakanya. Kartika ditampar di wajah tiga kali. kemudian diiikat tangan dan kakinya, mendorongnya ke dalam kamar mandi dan di tinggal keluar. Namun pasangan ini menolak tuduhan itu.

Ketika pintu kamar mandi tidak terkunci, Kartika berhasil merangkak ke ruang tamu dan melarikan diri dari rumah. Di jalanan, ia meminta bantuan dari seorang warga Indonesia dan dibawa ke KJRI sebelum dikirim ke rumah sakit untuk perawatan.

Petugas medis mendapati bibir dan mata kiri Kartika memar juga beberapa bekas luka dan bekas luka bakar.

Seorang dokter lain menemukan 45 bekas luka dan lecet di punggung.

Fu mengatakan kepada pengadilan bahwa Kartika datang ke Hong Kong untuk bekerja pada bulan Juli 2010. Kekerasan tersebut dimulai pada Oktober tahun itu, setelah Kartika pindah dengan keluarganya ke Serenity Taman di Tai Po.

Pasangan ini ditangkap tiga hari setelah Kartika melarikan diri pada tanggal 9 Oktober 2013.
Au mengatakan kepada polisi bahwa Kartika kehilangan kendali setelah mengetahui ibunya telah didiagnosis menderita kanker di Indonesia. Dia menuduh Kartika mengancamnya dengan pisau dan menuntut kenaikan upah. Setelah kejadian itu, ia mengikat Kartika agar aman, terangnya.

Sidang akan dilanjutkan dengan wakil hakim So Wai-tak pada hari Senin.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------


Indonesian maid ‘left in diaper, tied to a chair’

Indonesian kept bound without food or water while family went on holiday, court hears



A couple forced their domestic helper to put on a diaper then tied her to a chair before leaving her without water or food while they went for a five-day holiday in Thailand with their children, the District Court heard yesterday.

This was just one incident related by the prosecution in the trial of Tai Chi-wai, 42, and his wife, Catherine Au Yuk-shan, 41, who are facing one count of false imprisonment, one of assault and six of inflicting grievous bodily harm on the maid between October 2010 and October last year. The couple, who deny the charges, are also said to have beaten Kartika Puspitasari with a bicycle chain and a shoe, and scalded her on the face and arms with a hot iron.

Au allegedly slashed the young Indonesian woman on her hands and stomach with a paper cutter, and banged the helper's head on a tap so hard it left a scar after accusing her of failing to clean the toilet properly.

Whenever the couple left the house or went to bed, they tied her up, the court was told.

In October last year, the couple allegedly denied Kartika any food for two days and she ended up taking chicken and a piece of cake from the fridge. When Tai realised she had eaten the food without permission, he allegedly slapped her on the face three times. Fu Chong-sang, prosecuting, said Tai then tied her hands and legs, pushed her into the bathroom and went out.

When Kartika found that the bathroom door was not locked, she managed to crawl to the living room where she loosened the ties and escaped from the house. On the street, she sought help from a fellow Indonesian and was taken to the country's consulate before being sent to hospital for treatment.

A medical officer found her lips and left eye were bruised, and she had multiple scars and burn marks.

Another doctor found 45 scars and abrasions on her and said the injuries were unlikely to have been self-inflicted as those on her back were beyond reach.

Fu told the court that the maid came to Hong Kong to work for the couple in July 2010. The abuse began in October that year, after Kartika moved with the family to Serenity Park at Tai Po.

The couple were arrested three days after Kartika's escape on October 9.

Au told police that Kartika lost control after discovering her mother had been diagnosed with cancer in Indonesia. She accused Kartika of threatening her with a knife and demanding a wage rise. Following a struggle, she tied up Kartika to stop the helper harming herself, she said.

The trial continues before deputy judge So Wai-tak on Monday.

sumber

Press Release: Aliansi Migran Progresif (AMP-HK) Menuntut Perlindungan Sejati


Referensi: Umi Sudarto
Phone : +85266757652

Melihat kondisi rakyat Indonesia yang mayoritas hidup di bawah tekanan garis kemiskinan karena minimnya lapangan pekerjaan, murahnya upah buruh, mahalnya kebutuhan pokok, tingginya harga pendidikan serta maraknya perampasan tanah rakyat oleh pemerintah Indonesia yang di sokong oleh peran Imperialis memaksa rakyat miskin terpaksa harus bermigrasi menjadi buruh murah ke luar negeri, yang kepergiannya bertujuan untuk memperbaiki kondisi ekonomi 
Namun kenyataan impian tak semudah apa yang diharapkan karena berbagai permasalahan menjadi BMI sering kali bermunculan.

Minggu 15 juni 2014 ,dalam rangka memperingati hari PRT-Internasional yang ke tiga. Aliansi Migrant Progresif (AMP) Menggelar aksi demo didepan KJRI -HK. Dalam aksi yang dihadiri oleh anggota organisasi AMP dan massa luar yang ikut gabung tidak kurang dari 90 orang, bergerak menuntut perubahan dan perbaikan bagi perlindungan BMI yang mengacu pada konvensi ILO C189, mengingat kondisi BMI sejak adanya program ekspor buruh murah atau yang lebih tepat du sebut " Program Perdagangan Rakyat Indonesia ke luar negeri " sangat rentan dan banyak sekali kasus-kasus seperti pelecehan seksual, penganiayaan dan bahkan eksploitasi fisik yang terjadi dikalangan BMI.Sikap pemerintah yang melakukan Pelimpahan tanggung jawab dalam perlindungan pada swastanisasi didukung lagi belum adanya memotorium kedua pihak antara pengirim dan negara penerima tenaga kerja memicu banyaknya permasalahan di atas. 

Maka kami menuntut perubahan yang sejati kepada pemerintah Indonesia dengan menyikapi lebih serius segala permasalan BMI di Hong Kong khususnya dan BMI di negara penempatan lainya agar sistem perlindungan lebih berpihak kepada BMI bukan majikan dan agensi. mengingat banyaknya kasus kasus kekerasan dan. penindasan yang bermunculan, dan ini bukan terjadi pada PRTA dari Indonesia saja, tapi juga dari negara lain" Jelas Ryan sebagai penanggung jawab aksi

Dalam aksi tersebut juga disampaikan permasalahan - permasalahan BMI-PRT di Hong Kong khususnya, salah satunya adalah kontrak mandiri yang benar benar menjadi kebutuhan BMI agar terlepas dari sistem perbudakan hutang oleh agency melalui potongan gaji 

Terciptanya alat pemerasan bernama KTKLN menjadi momok bagi BMI untuk lebih tenang dan senang saat pulang ke kampung halaman, meski Permen No 4 tahun 2013 mengatakan bahwa KTKLN hanya diberlakukan bagi BMI yang pertama kali ke luar negri. Namun pada prakteknnya banyak BMI yang masih dicekal di bandara-bandara di Tanah Air, jelas Ani dalam orasinya tentang KTKLN.

Syistem Online dan pelarangan pindah agen menjadi salah satu dari tuntutan AMP untuk segera dihapus, karna kebijakan KJRI yang menciptakan system ini hanya menguntungkan bagi agency dan PT saja untuk melegalkan jeratan pada BMI agar tidak pindah agen sebelum dua tahun masa Kontrak habis. Dan peraturan ini semakin membuat BMI terjerat pada potongan yang tinggi. Belum lagi agen nakal yang suka memprovokasi majikan untuk menginterminit pembantunya, jelas Amooy dari SERPAN.

Dari Organisasi Bocah Lali Omah ( OBLO ) juga menjelaskan biaya agen yang tinggi karna adanya peraturan seperti syistem Online dan di dicabutnya perijinan Kontrak mandiri pada 2004, Disitulah akar perbudakan hutang kembali bermunculan dalam kasus overcharging sering yang menimpa buruh migran Indonesia karna harus membayar biaya Agen terus menerus dan di benarkan oleh Ryan Salah satu Koordinator aksi, yang juga menyampaikan bahwa tanggal 16 Juni adalah hari PRT internasional dan.AMP tidak akan berhenti untuk menuntut pemerintah Indonesia agar secepatnya meratifikasi C189 sebagai undang-undang aturan kerja layak untuk BMI-PRT yang berada diluar negeri, maupun di seluruh Indonesia, bukan dan tidak hanya sanggup untuk menandatangani saja. namun juga harus mengesahkan,  menetapkan dan menerapkan. Selain orasi dari semua unsur anggota AMP, juga dibacakan statemen AMP yang berisi tuntutan aksi kepada pemerintah Indonesia yang dibawakan oleh Sifa Nurhasanah dari IMMI-HK (Ikatan Migran Muslim Indonesia)

AMP juga menuntut KJRI HK dalam perbaikan pelayanan publik, khususnya terhadap BMI yang mengadukan kasus dan masalahnya ke KJRI jelas Umi Sudarto menuntup aksi ini di tambahkan pula oleh Umi Sudarto bahwa Selama ada peraturan yang merugikan, selama hak BMI terus dirampas disitulah basis perlawanan akan terus dikobarkan karena jika perjuangan BMI berhenti maka perbudakan modern tetap akan ada.

Acara aksi yang. berlangsung selama 1 jam tersebut sebelumnnya juga di adakan acara lingkaran Aksi dan penggalangan dana untuk KARTIKA dan MELINDA serta memahamkan massa tentang hari PRT sedunia dan permasalahanya, AMP juga menggelar lingkaran aksi yang diisi dengan pendidikan pemahaman permasalahan BMI-PRTA di Hong kong dan tanah air dan digelar pula dengan berbagai acara pentas seni BMI dari organisasi anggota Aliansi Migran Progresif (AMP)

Hidup buruh migran Indonesia !!! Jayalah AMP !!! 
Jayalah perjuangan rakyat tertindas!!!